Pada kesempatan ini saya mencoba untuk sekedar sharing untuk para orangtua atau calon orangtua tentang bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri pada anak sejak dini. Artikel ini saya baca dan saya kutip dari sebuah buku yang berjudul " Menyemai Benih Karakter Anak " karya Ratna Megawangi penerbit Indonesia Heritage Foundation ( IHF ) yang menurut saya sangat luar biasa isinya dan sangat bermanfaat khususnya untuk saya .
Percaya diri adalah bagaimana kita merasa dan melihat diri kita sendiri. Percaya diri juga yakin akan anggapan orang tentang diri kita. Percaya diri anak akan tumbuh kuat apabila orang tua dapat menumbuhkan perasaan " saya disayang dan diterima " ( feeling lovable ), dan " saya mempunyai kemampuan " ( feeling capable ) dalam diri anak.
Feeling lovable adalah perasaan ketika anak merasa disayang dan keberadaannya memberi makna penting bagi orangtuanya, dan bukan karena apa yang dapat dilakukanya. Orangtua dapat menumbuhkan perasaan ini sejak usia bayi, caranya, dengan melimpahkan kasih sayang seperti: belaian, dekapan, dan kata-kata manis. Apabila anak sudah mulai besar, orangtua dapat memuji anak tentang keunikan dirinya, Misalnya: senyumnya yang manis, humornya yang lucu, atau pikiran kreatifnya.
Feeling capable adalah perasaan yang sangat kuat, dirinnya mampu melakukan sesuatu, misalnya: anak-anak balita biasanya ingin menunjukan bahwa dirinya mampu memakai baju sendiri, cuci tangan sendiri, dan melakukan pekerjaan lainnya tanpa dibantu orang dewasa. Periode usia ini adalah masa kritis bagi pembentukan kepribadian initiative ( kreativitas, antusiasme ) atau kebalikannya, yaitu rasa bersalah dan takut-takut ( guilt ) ( menurut Erikson ). Anak memerlukan peluang untuk berkreasi, berimajinasi, bereksperimen, berani mengambil resiko, dan berani gagal. Apabila orangtua sering melarang, mengkritik, dan menyalahkan anak, maka anak akan sulit menumbuhkan rasa kepercayaan dirinya.
Nah, berikut ini adalah beberapa tips bagi orangtua agar mampu menumbuhkan rasa kepercayaan diri anak :
- Kurangi kebiasaan mengkritik anak. Banyak orangtua yang selalu mengkritik anaknya, dan mereka beralasan karena menyayangi anak. Ubahlah nada bicara dan pakailah kata-kata positif saat ingin menasehati anak.
- Kenali kemampuan anak. Jangan terlalu memaksakan mereka agar mau mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Teori kecerdasan majemuk membuktikan setiap anak mempunyai bakat dan kemampuan berbeda. Jika anak kesulitan dalam pelajaran matematika, tetapi senang sekali menggambar, bantulah anak untuk mengerti matematika tetapi jangan terlalu memaksakannya. Namun, doronglah anak untuk berlatih menggambar.
- Berikan pujian setiiap kali anak melakukan hal yang baik. Namun, ciptakan kondisi bahwa berbuat kesalahan adalah OK. Katakan bahwa bunda atau ayah juga pernah melakukan kesalahan. Tetapi, kita dapat mempelajari kesalahan tersebut untuk memperbaikinya.
- Memonitor perkembangan anak di sekolah. Banyak orangtua tidak menyadari bahwa guru dan pelajaran sekolah dapat "membunuh" kepercayaan diri anak. Cara pengajaran yang salah; galak, mengecilkan anak, memberikan label negatif satu diantaranya. Mata pelajaran yang terlalu membebani dan tidak sesuai dengan perkembangan umur anak, akan membuat anak merasa tidak mampu atau bodoh. Perbanyaklah komunikasi denhgan anak tentang kesulitannya di sekolah. Bicaralah secara baik-baik dengan guru tentang perkembangan anaknya.
Orangtua mana yang tidak bangga jika anaknya mempunyai rasa percaya diri yang tinggi ( bukan sombong ), semua itu berawal dari kita sebagai orangtua . Mari belajar bersama.....Semoga bermanfaat ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar